ALAMAT

WONOSOBO - JAWA TENGAH

Rabu, 20 Februari 2013

PERSAUDARAAN SETIA HATI


PERSAUDARAAN SETIA HATI (Diri Yang Setia Kepada Hati Sanubari)

Persaudaraan Setia Hati atau orang lebih sering menyebutnya setia hati atau sh, lekat dikalangan masyarakat pencak silat dikaitkan dengan IPSI karena pendahulunya adalah tokoh-tokoh yang sangat loyal dan penuh dedikasi mengembangkan pencak silat di Indonesia. Sebagai sebuah organisasi, persaudaraan Setia Hati tidak mengenal istilah guru besar atau pelatih, tetapi lebih sering menggunakan istilah Khadang. Khadang yang lebih pandai bersilat mengajarkan yang masih baru untuk belajar, sedangkan yang lebih banyak pemahamannya tentang kerohanian mengajarkan ilmu kepada yang lain… begitulah persaudaraan dibangun.

Persaudaraan Setia Hati dibentuk sebagai sebuah organisasi pada tanggal 22 Mei 1932 di Semarang oleh saudara-saudara dari berbagai daerah sebanyak lebih kurang 50 orang. Pembentukan organisasi ini tentu saja mendapat persetujuan Ki ngabei Surodiwiryo, apalagi kemudian ditetapkan sebagai ketuanya adalah bapak Munandar Hardjowiyoto yang telah disahkan oleh beliau (Ki ngabei Surodiwiryo) untuk menjadi juru kecer.






ORGANISASI

Organisasi Persaudaraan Setia Hati dalam perjalanan waktu awalnya bernama SHO (Setia Hati Organisasi) dipimpin oleh Bapak Munandar Hardjowijoto (1932-1934) Kemudian pada tahun 1934-1938 Ketua Umum dipegang oleh Bapak Maryun Sudirohadiprojo dan Bapak Munandar Hardjowijoto sebagai Ketua Kerohanian. Pada tahun 1938-1962 Ketua Umum adalah Bapak Alip Purwowarso Sementara Ketua kerohanian masih tetap dipegang oleh Bapak Munandar. Selanjutnya pada tahun 1962-1978 Bapak Munandar Hardjowijoto sebagai Ketua Umum dimana pada periode inilah SHO diganti namanya menjadi Persaudaraan Setia Hati (SH). Selanjutnya setelah Bapak Munandar Hardjowijoto meninggal dunia beliau digantikan oleh Bapak GPH Gondhokusumo (1978-1985). Periode berikutnya (1985-2000) Ketua Umum adalah Bapak R. Mashadi Sastrohadipranoto kemudian digantikan oleh Bapak Harsoyo (2000-2005) sebagai hasil MUNAS di Yogyakarta. Kemudian hasil MUNAS di Wonosobo untuk periode 2005-2010 Ketua Umum adalah Bapak Gambiro, dan pada tahun 2010 bertempat di Temanggung Bapak H. Trinowo Harsono menjabat sebagai Ketua Umum Persaudaraan Setia Hati untuk periode 2010-2015.





TUNTUNAN

Tuntunan ini adalah arahan bapak Munandar Hardjowiyoto yang ditulis oleh bapak Slamet Danudinoto kemudian disalin kembali di blok ini tanpa mengurangi atau menambah isinya.
TUNTUNAN KE-I
ISI
  1. Apakah S.H itu, dan bagaimana hakikatnya ?
    1. Kata S.H adalah singkatan Setia Hati
    2. Ungkapan secara singkat ringkas
    3. Hakikat
  2. Bagaimana Perwujudan manifestasinya ?
  3. Apa Kegunaan SH bagi
    1. Insan S.H secara individu / seseorang.
    2. Insan S.H dalam ikatan organisasi Persaudaraan Setia Hati..
    3. Keperluan kemanusiaan,
1.  APAKAH S.H ITU DAN BAGAIMANA HAKIKATNYA ?
  • Kata S.H adalah singkatan Setia Hati
Setia Hati mengandung arti dan makna : Diri Setia Kepada Hati-Sanubari. Sedangkan Hati Sanubari fungsinya selalu menghadap kiblat kepada TUHAN YANG MAHA ESA.
Ungkapan secara singkat ringkas
(1)   Yang dimaksud dengan Diri ialah totalitas atau keseluruhan utuh bulat daripada badan wadag atau jasad dengan segala alat kelengkapannya, seperti pancaindera, akal pikiran,kehendak keinginan, hawa nafsu dan lain sebagainya. Badan wadag atau jasad dengan kelengkapannya itu kait mengkait, isi mengisi, serap menyerap satu sama lain mewujudkan suatu sifat atau perbuatan secara utuh.
(2)   Adapun Hati Sanubari ialah Kalbu, Sukma, Rosing Roso, Rasa Jati, Hati Nurani atau Pribadi.
(3)   Kata Setia mengandung arti : Tidak mau dipisahkan betapapun situasi dan kondisinya. Ikhlas berkorban demi kesetiaannya menurut kehendak, yang dilimpahi kesetiaannya secara mutlak. Kesetiaan itu pada dasarnya berlandasan cinta kasih dan kasih sayang yang mendalam.
(4)   Diri Setia Kepada Hati Sanubari disini berarti Diri yang sudah bersatu manunggal dengan Hati Sanubari berkiblat kepada Yang Maha Kuasa.
Hakikat
(1)   Yang disebut Diri itu sesungguhnya apa dari  manusianya, jadi merupakan obyek belaka, bukan subyek. Dengan kata lain Diri adalah yang digunakan, bukan yang menggunkan; yang digerakkan, bukan yang menggerakkan; yang diwisesa bukan yang misesa. Bandingkan : apa-nya yang melihat, dengan Siapa yang melihat Dengan demikian Diri berfungsi hanya sebagai (pra) sarana belaka.
(2)   Adapaun yang disebut Hati Sanubari, Pribadi, Rosing Rasamerupakan Siapa atau Subyek daripada manusia-nya. Dengan demikian jadiyang menggunakan, yang menggerakkan, yang mengaku, yang misesa. Akan merupakan kesalahan yang besarlah, jikalau yang sesungguhnya obyekdianggap atau diperlakukan sebagai subyek, dan sebaliknya yang sesungguhnya subyek diperlakukan dan dianggap hanya sebagai obyek. Diibaratkan : Sebuah pensil membuat tulisan. Sesungguhnya pensil itu hanya suatu benda/alat – sarana yang digerakkan untuk membuat tulisan. Pensil baru dapat bergerak dan menulis kalau digerakkan atau dituliskan. Pensil tidak akan dapat bergerak dan menulis sendiri tanpa adanya yang menuliskan. Tulisannyapun sesngguhnya bukan kepunyaan pensil, akan tetapi kepunyaan yang menuliskan. Tidakkah merupakan kesalahan besar, jikalau pensil itu menyatakan Saya menulis sendiri, dan tulisan ini tulisanku.Hati Sanubari berisikan rasa pangrasa yang halus dan mendalam dan menjadi sarana Tuhan untuk Menyatakan Diri dalam Wahyu atauSasmitanya. Oleh karenanya Hati Sanubari seolah-olah berfungsi sebagaiDuta Besar Berkuasa Penuh untuk ke Tuhan dan dari Tuhan. Jikalau Dirisudah bersatu manunggal dengan Pribadi dan Diri berbuat menurut dan selaras dengan Hati Sanubari, maka manusia yang memiliki diri itu adalahpelaku-bulat Illahi dan dapat disebut manusia utuh-bulat, manusia pari-purna. Inilah tujuan persaudaraan Setia Hati, membimbing para kadang menjadi insane S.H. sejati yang selalu hidup didalam Tuhan. Sudahkah kadang-kadang S.H. merasa menjadi insane/manusia S.H. sejati ?
2.  BAGAIMANAKAH PERWUJUDAN / MANIFESTASI SETIA HATI ?
  1. Perwujudan / manifestasi SETIA-HATI yang kami lihat dan kami ketahui pada umumnya masih terbatas pada perwujudan dalam bentuk Pencak Silat, jadi masih terbatas pada sinar, belum pada matahari-nya, masih terbatas pada Diri, belum sampai pada pribadi-nya ; dengan kata lain belum sampai kepada hakekat daripada SETYA-HATI.
  2. PENCAK-SILAT S.H. dalam fungsinya untuk mempertahankan dan membela diri adalah salah satu sarana memperoleh keselamatan, keamanan dan ketentraman hidup. Yang dimaksud dengan keselamatan, keamanan dan ketenteraman lahir bathin menuju pada kesejahteraan dan kebahagiaan hidup.
  3. Keselamatan yang beraspek lahir diusahakan dengan melatih dan mengolah diri, sedang keamanan dan ketenteraman yang beraspek bathinperlu diusahakan dengan melatih pribadi. Pencak-Silat S.H.sesungguhnya tidak bisa dan tidak boleh dipisahkan dari jiwa pribadi S.H., seperti halnya dengan sinar matahari dari matahari atau sebaliknya matahari dari sinarnya. Begitu pula  rasa manis dari madu atau sebaliknya madu dari rasa manis-nya. Kedua-duanya mewujudkan dwi-tunggal, dua eksistensi yang menyatu-manunggal, mewujudkan satu keutuhan bulat, satu totalitas.
  4. Oleh karenanya tiada tepat dan lengkaplah, mempelajari PENCAK-SILAT S.H. tanpa memperdalam JIWA–PRIBADI S.H. atau sebaliknya memperdalam JIWA-PRIBADI S.H. tanpa memahami PENCAK-SILAT S.H.
3.  APAKAH KEGUNAAN SETIA HATI ?
  1. Bagi kadang-kadang S.H. Sendiri Sebagai Seseorang / Individu.
(1)   Perjalanan hidup seseorang pada umumnya selalu terombang-ambing oleh pasang surut gelombang kehidupan. Entah itu diakui sebagai cobaan atau sebagai ujian hidup. Gelombang itu bisa diakui menjadi kawan atau lawan tergantung pada kekuatan , keseimbangan dan keselarasan diri-pribadi menentukan sikap dalam menghadapi gelombang yang merupakan tantangan hidup itu. Jika gelombang atauujian hidup itu membawa suka diakui sebagai kawan, Sebaliknya jika menimbulkan duka atau kecewa, dianggap sebagai lawan. Padahal kesemuanya prose situ tiada terlepas dan berada dalam TATA WISESA TUHAN sesuai dengan KODRAT (KUASA) dan IRADAT (KARSA) TUHAN. Oleh karena itu, barang siapa selalu dalam Hukum Tuhan, menyelaraskan tiap kehendak dan perbuatannya dengan Kodrat dan Iradat Illahi, dia niscaya akan aman-tenteram selamat-sejahtera lahir-bathin.
(2)   Dalam hubungan ini SETYA-HATI membantu membimbing kadang-kadang mencapai tuuan tersebut dengan mengusahakan latihan-latihan untuk dapat menguasai kekuatan jasmaniah dan kekuatan rokhaniah dengan latihan-latihan olah raga dan olah jiwa. S.H. berkeyakinan, bahwa gerak-mobah-molah insane itu bertujuan :
(a)    mempertahankan diri pribadi.
(b)   mencapai kesejahteraan dan kebahagiaan (lahir-bathin)
(c)    kembali kepada SUMBER-nya (sesempurna-sempurnanya)
(3)   Dalam pada itu perlu diinsyafi pula, bahwa apa yang disebuttantangan hidup itu bisa bersifat lahiriah jadi kasat mata, atau bisa bersifat bathiniah yangg tidak kasat mata. Tantangan hidup yang kasat mata mungkin berpa penyakit atau berwujud oknum yang ingin menyerang atau mencelakakan kita, baik secara langsung maupun secara tidak langsung dengan menggunakan yang disebut kekuatan hitam (black magic). Tantangan hidup yang tidak kasat mata biasanya berupa kehendak-keinginan atau fikiran-fikiran dan gagasan-gagasan yang diprakarsai oleh hawa nafsunya sendiri. Betapapun bentuk atau wujud daripada tantangan-tantangan itu, kita tidak perlu dan tidak boileh cemas, asalkan kita sendiri memiliki dan menguasai kekuatan jasmaniah dan rokhaniah yang sepadan atau melebihi.
(4)   Oleh karena itu setiap insane S.H. diwajibkan memahami PENCAK-SILAT S.H. dan menguasai KEROHANIAN S.H. dengan melakukan latihan-latihan secara teratur, terarah dan tekun. Tiap latihan harus dikerjakan dengan teliti, betul sampai tutug. Jiwa pribadi sebagaisubyek atau yang mengaku dan misesa perlu selalu disiap-siagakan menghadapi segala kemungkinan rintangan atau tantangan yang tidak kasat-mata, sedang diri yang melingkupi jasad dan alat kelengkapannya perlu pula dilatih, agar menguasai daya kekuatan danmemiliki kemampuan serta ketrampilan menghadapi segala kemungkianan tantangan yang kasat-mata. Dengan jalan menghayati ajaran-ajaran termaksud di atas, diharapkan setiap insane S.H. akan berhasil mencapai suasana aman, tenteram sentausa, selamat sejahtera, lahir bathin.
2.   Kegunaan S.H.Bagi Para Kadang Dalam Ikatan Organisasi
(1)   Insan-insan S.H. yang merasa mempunyai ikatan tali persaudaraan SETYA-HATI dalam arti DIRI SETIA KEPADA HATI SANUBARI, ber-JIWA PRIBADI S.H. serta ber-PENCAK-SILAT S.H. sudah selayaknya merasa merupakan satu rumpun, RUMPUN S.H.
(2)   SETYA-HATI harus dapat dirasakan sebagai Suh / simpai atau suatu alat-pengikat untuk menghimpun dan mengatur secara organisasi yang baik dan teratur, agar bisa menunjukkan partisipasinya sebagai potensi yang tidak boleh diabaikan begitu saja dalam pembangunan, khususnya dibidang mental-spiritual. Ikatan bathin dengan jiwa-pribadi S.H., ikatan lahir dengan Pencak-Silat S.H. dalam suatu organisasi yang baik dan teratur sebagai wadah atau sarana, dimana para kadang ber-silih-asah, silih asuh, silih asih. Masing-masing dapat mencerdaskan, mengasuh hingga timbul rasa cinta-kasih dan kasih saying satu sama lain.
3.    Kegunaan S.H Bagi Kemanusiaan
(1)   SETYA-HATI bermaksud memberikan bimbingan kepada kadang-kadang S.H. kerarah DIRI SETYA KEPADA HATI-SANUBARI, karena jika DIRI sungguh-sungguh sudah setya kepada Hati Sanubari, maka dia tidak mau lepas atau terpisah dari Hati –Sanubari. Ini berarti baahwasanya DIRI dengan PRIBADI sudah menjadi satu-manunggal, lingkup-melingkupi dan serap-menyerapi. Manusianya sungguh-sungguh mewujudkan suatu totalitas, suatu keutuhan bulat. Manusianya sunggh-sungguh dapat disebut PELAKU BULAT daripadaSUBYEK MUTLAK, TUHAN YANG MAHA ESA. Ajaran-ajaran tersebut pada dasarnya beraspek Universil, untuk seluruh umat manusia, tidak semata-mata hanya dikhususkan bagi kadang-kadang S.H. saja.
(2)   Kembali kepada masalah hati-sanubari atau pribadi. Tidak dapat disangkal lagi, bahwasanya landasan untuk ber-iman dan memantapkan iman kepada TUHAN  ialah hati-sanubari masing-masing. Hati-sanubarilah yang dapat mewjudkan gerak-mobah-molah, perbuatan atau pakarti adil, jujur, benar, tepa-sarira dan membawa seseorang ke rasa-pangrasa yang halus mendalam. Sesungguhnya rasainilah yang disebut rasa KETUHANAN atau rasa KASUKSMAN. Rasa ini mengantar kita ke rasa kemanusiaan yang adil dan beradab serta budi pekerti luhur.
(3)   Oleh karena itu tidak berlebihan kiranya, jikalau yang disebut hati-sanubari atau pribadi itu dianggap berfungsi seolah-olah sebagai DUTA BESAR BERKUASA PENUH untuk sampai ke TUHAN dan dari TUHAN, disamping fungsinya sebagai SARANA TUHAN untuk MENYATAKAN DIRI dalam WAHYUNYA. Dengan Diri, setya kepada Hati-Sanubari maka Dirisudah satu-manunggal dengan Pribadi. Diri dengan pribadi sudah lingkup-melingkupi, serap-menyerapi. Dengan demikian diri sudah tidak menjadi tirai atau warana/aling-aling lagi antara pribadi dengan TUHAN PENCIPTANYA. Dalam hubungan ini diri bahkan dapat menjadi tombol (schakelaar B.Bda) antara pribadi dengan GUSTI. Ular-ular seperti tersebut diatas bisalah kiranya digunakan sebagai salah satu unsure landasan dalam tatakehidupan ber-PANCASILA demi memantapkan suksesnya “PEMBANGUNAN BANGSA DAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA”





















Senin, 11 Februari 2013

ASAL USUL GUNUNG MERAPI


Pada jaman dahulu kala, pulau Jawa belum banyak daerah yang dihuni oleh manusia. Kebanyakan wilayahnya adalah hutan belantara yang dihuni oleh makhluk-maklhuk gaib dan binatang liar. Keadaan pulau jawa pada waktu itu miring, shingga mengkawatirkan kelangsungan makluk hidup yang menghuninya. Hanya ada beberapa bagian yang dihuni oleh sekelompok manusia yang hidup secara bergerombol dan suka berpindah-pindah karena keganasan alam dan serangan musuh.
Para penghuni pulau jawa ini tidak menyadari kalau tanah yang mereka tempati itu sebenarnya miring, sehingga ada kekhawatiran akan meluncur dan tenggelam ke laut Selatan. Yang mengetahui keadaan ini adalah para dewa di kayangan yang peduli akan kelangsungan hidup para penghuni pulau Jawa waktu itu. Para dewa di kayangan akhirnya sepakat untuk membuat agar pulau Jawa tidak miring, sehingga para penghuninya bisa berkembang biak dan semakin maju peradabannya.
. Ketakutan yang mereka alami tentu saja tidak bisa mereka elakkan lagi. Tidak hanya menusia yang ketakutan namun para penghuni lainnya termasuk binatang juga lari tunggang-langgang ketakutan.
Para dewa kemudian berunding lagi untuk menentukan pemberat yang akan mereka taruh di tengah pulau itu. Mereka memutuskan menggunakan Gunung Jamurdwipa yang yang sangat terkenal bagi makhluk-makhluk gaib dan sangat tinggi menjulang di dalam laut selatan. Para dewa kemudian memberikan pengarahan dan meminta ijin para penghuni Gunung Jamurdwipa aga segera pindah tempat, karena gunung yang mereka tempati akan dipindahkan ke tengah-tengah pulau Jawa.
Dari hasil pengukuran yang telah mereka lakukan terdahulu, ternyata lokasinya dihuni oleh dua orang yang sedang bekerja di tengah hutan belantara. Ke dua orang itu tenyata empu yang sedang membuat keris. Para dewa kemudian mengutus Dewa Panyarikan dan Batara Naradha beserta para pengawal untuk memberitahu kepada kedua orang itu agar segera pindah karena tempatnya akan diletakkan Gunung Jamurdwipa.
Para utusan dewa itu terpesona melihat kedua empu yang sedang mengerjakan keris masing-masing tanpa bantuan alat apapun. Empu itu sedang mencampur segala macam bahan logam dan dengan tangan kosong mereka menggunaka telapak tangan dan jari-jari untuk menempa dan memilin campuran bubuk logam itu hingga menggumpal.
Pekerjaan empu pada waktu itu tentu saja tidak bisa disela karena memelukan konsantrasi tingkat tinggi untuk mengolah bijih logam itu. Para utusan pun mau menunggu, dan sambil melihat betapa takjubnya mereka mengetahui cara pembuatan keris yang dilakukan oleh para empu itu. Gumpalan besi itu kemudian dipukul-pukul dan diurut-urut oleh para empu itu hanya menggunakan tangan mereka. Dan yang lebih menakjubkan lagi gumpalan besi itu membara dan menyala-nyala namun tangan para empu itu tidak terbakar sedikitpun.
Pekerjaan empu itu sebenarnya belum selesai namun karena ada utusan penting, maka pekerjaanya di hentikan sementara dan menemui utusan dari kayangan tersebut. Empu tersebut kemudian memperkenalkan diri. Yang satunya bernama Mpu Permadi sedangkan yang satunya lagi bernama Mpu Rama. Setelah saling memperkenalkan diri dan sedikit basa-basi, akhirnya Batara Naradha dan Dewa Panyarikan mengutarakan maksud kedatangannya
Batara Naradha pun segera menyampaikan maksud kedatangannya dan didukung oleh pernyataan Sewa Panyarikan, yaitu menyarankan agar kedua empu itu segera pundah dari lokasi itu karena akan ditepatkan gunung besar yang akan digunakan untuk menyeimbangkan pulau Jawa yang sedang miring. Batara Naradha menjelaskan hal ikhwal terjadinya gempa dan keadaan pulau Jawa yang sangat mengkawatirkan mengharapkan agar kedua orang itu mau mengerti dan menuruti kehendaknya tanpa ada halangan satupun. Tidak lupa Dewa Panyarikan pun menjelaskan pentingnya pekerjaan itu demi kelangsungan hidup para penghuni pulau Jawa.
Mpu Permadi dan Mpu Rama tertegun dan saling berpandangan. Nampak dari gurat wajahnya seperti tidak berkenan dengan kehendak para dewa. Ke dua empu itu mempunyai kepentingan terkait dengan pekerjaannya yang belum selesai. Dan ternyata ke-dua empu itu tidak berkenan bila harus berpindah tempat, sementara pekerjaan membuat kerisnya baru saja dimulai dan harus diselesaikian dilokasi itu. Kedua empu itu berpendapat jika pembuatan kerisnya tidak selesai dengan sempurna akan mendatangkan malapetaka bagi manusia, maka harus mereka meminta harus menunggu hingga pekerjaannya selesai.
Kedua utusan itupun berpendapat jika perkara ini adalah perkara yang bersifat mendesak, sehingga jikalau harus menggunakan pemaksaan pun akan dijalankannya. Kedua utusan itu tak henti-hentinya menerangkan bahwa tugas yang diembannya adalah demi kelangsungan hidup umat di pulau Jawa. Namun kedua empu itu juga kokoh pada pendiriannya, jika pengerjaan keris itu tidak sempurna juga akan mendatangkan mala petaka bagi manusia.
Kedua kubu itu pun terlibat adu mulut yang sangat menegangkan. Nampaknya suasananya semakin menjadi tidak terkendali. Karena alasan yang sangat mendesak, maka kedua utusan dewa pun menggunakan pemaksaan dengan mengerahkan seluruh bala tentara pengawalnya untuk menyerang kedua empu itu. Kedua empu itu segera memasang kuda-kuda untuk menyambut serangan bala tentara kayangan itu. Nampaknya pertarungan itu tidaklah seimbang mengingat kesaktian dari kedua empu itu dalam waktu yang tdak lama semua bala tentara itu berhasil dikalahkan.
Kini tinggal berempat mereka berhadap-hadapan dan terjadilah duel satu lawan satu. Pertarungan sengit pun tak bisa dihindarkan. Pertarungan kali ini nampak seimbang, sehingga pertempurannya berlangsung lama dan wilayah sekitar pertempuran itu nampak berantakan, banyak batu-batu berhamburan dan hancur jadi debu, pohon-pohon besar bertumbangan dan asap atau debu mengepul.
Batara Guru kemudian memberi titah kepada Dewa Bayu untuk memberikan pelajaran buat Mpu Rama dan Mpu Permadi. Dewa Bayu diperintah untuk segera memindahkan Gunung Jamurdwipa dengan meniupnya. Batara guru tidak peduli dengan keselamatan kedua empu itu, karena telah menentang para dewa dan membahayakan keselamatan umat manusia.
Berangkatlah Dewa Bayu ke Laut Selatan. Dengan kesaktiannya, Dewa Bayu segera meniup gunung itu. Tiupan Dewa Bayu yang bagaikan angin topan berhasil menerbangkan Jamurdwipa hingga melayang-layang di angkasa dan kemudian jatuh tepat di perapian kedua empu tersebut. Kedua empu yang berada di tempat itu pun ikut tertindih oleh Gunung Jamurdwipa hingga tewas seketika. Kemudian roh kedua empu tersebut tidak bisa diterima di alam baka sehingga menjadi penunggu gunung itu.
Meskipun kedua empu sakti itu telah tewas tertimpa gunung, namun sisa-sisa kesaktiannya tidak padam. Bahan keris yang masih dalam proses pengerjaanya masih menyala dan tidak dapat dipadamkan kecuali oleh kedua orang empu yang sudah tewas tersebut dan terus menerus membara dan karena tertimbun oleh gunung, lama kelamaan semakin membara dan membesar. Karena bertambah besar baranya, maka tempatnya menjadi terbatas sedangkan tekanannya menjadi meningkat. Bara api yang makin membesar itu menyembur ke atas dengan membakar bebatuan dan tanah yang menimbunnya hingga meleleh. Oleh karena tanah dan bebatuan yang meleleh tadi mnimbulkan lobang yang semakin hari semakin bertambah luas hingga sekarang menjadi kawah.















Minggu, 10 Februari 2013

Gunung Merapi


sumber wikipedia
Merapi (ketinggian puncak 2.968 m dpl, per 2006) adalah gunung berapi di bagian tengah Pulau Jawa dan merupakan salah satu gunung api teraktif di Indonesia. Lereng sisi selatan berada dalam administrasi Kabupaten SlemanDaerah Istimewa Yogyakarta, dan sisanya berada dalam wilayah Provinsi Jawa Tengah, yaitu Kabupaten Magelang di sisi barat, Kabupaten Boyolali di sisi utara dan timur, serta Kabupaten Klaten di sisi tenggara. Kawasan hutan di sekitar puncaknya menjadi kawasan Taman Nasional Gunung Merapi sejak tahun 2004.
Gunung ini sangat berbahaya karena menurut catatan modern mengalami erupsi (puncak keaktifan) setiap dua sampai lima tahun sekali dan dikelilingi oleh pemukiman yang sangat padat. Sejak tahun 1548, gunung ini sudah meletus sebanyak 68 kali.[rujukan?] Kota Magelang danKota Yogyakarta adalah kota besar terdekat, berjarak di bawah 30 km dari puncaknya. Di lerengnya masih terdapat pemukiman sampai ketinggian 1700 m dan hanya berjarak empat kilometer dari puncak. Oleh karena tingkat kepentingannya ini, Merapi menjadi salah satu dari enam belas gunung api dunia yang termasuk dalam proyek Gunung Api Dekade Ini (Decade Volcanoes).[1]

Geologi

Litografi sisi selatan Gunung Merapi pada tahun 1836, dimuat pada buku tulisanJunghuhn.
Gunung Merapi adalah gunung termuda dalam rangkaian gunung berapi yang mengarah ke selatan dari Gunung Ungaran. Gunung ini terbentuk karena aktivitas di zona subduksi Lempeng Indo-Australia yang bergerak ke bawah Lempeng Eurasia menyebabkan munculnya aktivitas vulkanik di sepanjang bagian tengah Pulau Jawa. Puncak yang sekarang ini tidak ditumbuhi vegetasi karena aktivitas vulkanik tinggi. Puncak ini tumbuh di sisi barat daya puncak Gunung Batulawang yang lebih tua.[2]
Proses pembentukan Gunung Merapi telah dipelajari dan dipublikasi sejak 1989 dan seterusnya.[3] Berthomier, seorang sarjana Prancis, membagi perkembangan Merapi dalam empat tahap.[4] Tahap pertama adalah Pra-Merapi (sampai 400.000 tahun yang lalu), yaitu Gunung Bibi yang bagiannya masih dapat dilihat di sisi timur puncak Merapi. Tahap Merapi Tua terjadi ketika Merapi mulai terbentuk namun belum berbentuk kerucut (60.000 - 8000 tahun lalu). Sisa-sisa tahap ini adalah Bukit Turgo dan Bukit Plawangan di bagian selatan, yang terbentuk dari lava basaltik. Selanjutnya adalah Merapi Pertengahan (8000 - 2000 tahun lalu), ditandai dengan terbentuknya puncak-puncak tinggi, seperti Bukit Gajahmungkur dan Batulawang, yang tersusun dari lava andesit. Proses pembentukan pada masa ini ditandai dengan aliran lava, breksiasi lava, dan awan panas. Aktivitas Merapi telah bersifat letusan efusif (lelehan) dan eksplosif. Diperkirakan juga terjadi letusan eksplosif dengan runtuhan material ke arah barat yang meninggalkan morfologi tapal kuda dengan panjang 7 km, lebar 1-2 km dengan beberapa bukit di lereng barat. Kawah Pasarbubar (atau Pasarbubrah) diperkirakan terbentuk pada masa ini. Puncak Merapi yang sekarang, Puncak Anyar, baru mulai terbentuk sekitar 2000 tahun yang lalu. Dalam perkembangannya, diketahui terjadi beberapa kali letusan eksplosif dengan VEI 4 berdasarkan pengamatan lapisan tefra.
Karakteristik letusan sejak 1953 adalah desakan lava ke puncak kawah disertai dengan keruntuhan kubah lava secara periodik dan pembentukan awan panas (nuée ardente) yang dapat meluncur di lereng gunung atau vertikal ke atas. Letusan tipe Merapi ini secara umum tidak mengeluarkan suara ledakan tetapi desisan. Kubah puncak yang ada sampai 2010 adalah hasil proses yang berlangsung sejak letusan gas 1969.[2]
Pakar geologi pada tahun 2006 mendeteksi adanya ruang raksasa di bawah Merapi berisi material seperti lumpur yang secara "signifikan menghambat gelombang getaran gempa bumi". Para ilmuwan memperkirakan material itu adalah magma.[5] Kantung magma ini merupakan bagian dari formasi yang terbentuk akibat menghunjamnya Lempeng Indo-Australia ke bawah Lempeng Eurasia[6].
Puncak Merapi pada tahun 1930.
Letusan-letusan kecil terjadi tiap 2-3 tahun, dan yang lebih besar sekitar 10-15 tahun sekali. Letusan-letusan Merapi yang dampaknya besar tercatat pada tahun 1006 (dugaan), 178618221872, dan 1930. Letusan pada tahun 1006 membuat seluruh bagian tengah Pulau Jawa diselubungi abu, berdasarkan pengamatan timbunan debu vulkanik.[7] Ahli geologi Belanda, van Bemmelen, berteori bahwa letusan tersebut menyebabkan pusatKerajaan Medang (Mataram Kuno) harus berpindah ke Jawa Timur. Letusan pada tahun 1872 dianggap sebagai letusan terkuat dalam catatan geologi modern dengan skala VEI mencapai 3 sampai 4. Letusan terbaru, 2010, diperkirakan juga memiliki kekuatan yang mendekati atau sama. Letusan tahun1930, yang menghancurkan tiga belas desa dan menewaskan 1400 orang, merupakan letusan dengan catatan korban terbesar hingga sekarang.[rujukan?]
Letusan bulan November 1994 menyebabkan luncuran awan panas ke bawah hingga menjangkau beberapa desa dan memakan korban 60 jiwa manusia. Letusan 19 Juli 1998 cukup besar namun mengarah ke atas sehingga tidak memakan korban jiwa. Catatan letusan terakhir gunung ini adalah pada tahun 2001-2003 berupa aktivitas tinggi yang berlangsung terus-menerus. Pada tahun 2006 Gunung Merapi kembali beraktivitas tinggi dan sempat menelan dua nyawa sukarelawan di kawasan Kaliadem karena terkena terjangan awan panas. Rangkaian letusan pada bulan Oktober dan November 2010 dievaluasi sebagai yang terbesar sejak letusan 1872[8] dan memakan korban nyawa 273 orang (per 17 November 2010)[9], meskipun telah diberlakukan pengamatan yang intensif dan persiapan manajemen pengungsian. Letusan 2010 juga teramati sebagai penyimpangan dari letusan "tipe Merapi" karena bersifat eksplosif disertai suara ledakan dan gemuruh yang terdengar hingga jarak 20-30 km.
Gunung ini dimonitor non-stop oleh Pusat Pengamatan Gunung Merapi di Kota Yogyakarta, dibantu dengan berbagai instrumen geofisika telemetri di sekitar puncak gunung serta sejumlah pos pengamatan visual dan pencatat kegempaan di Ngepos (Srumbung), Babadan, dan Kaliurang.

Erupsi 2006

Di bulan April dan Mei 2006, mulai muncul tanda-tanda bahwa Merapi akan meletus kembali, ditandai dengan gempa-gempa dan deformasi. Pemerintah daerah Jawa Tengah dan DI Yogyakartasudah mempersiapkan upaya-upaya evakuasi. Instruksi juga sudah dikeluarkan oleh kedua pemda tersebut agar penduduk yang tinggal di dekat Merapi segera mengungsi ke tempat-tempat yang telah disediakan.
Pada tanggal 15 Mei 2006 akhirnya Merapi meletus. Lalu pada 4 Juni, dilaporkan bahwa aktivitas Gunung Merapi telah melampaui status awas. Kepala BPPTK Daerah Istimewa Yogyakarta, Ratdomo Purbo menjelaskan bahwa sekitar 2-4 Juni volume lava di kubah Merapi sudah mencapai 4 juta meter kubik - artinya lava telah memenuhi seluruh kapasitas kubah Merapi sehingga tambahan semburan lava terbaru akan langsung keluar dari kubah Merapi.
1 JuniHujan abu vulkanik dari luncuran awan panas Gunung Merapi yang lebat, tiga hari belakangan ini terjadi di Kota Magelang dan Kabupaten MagelangJawa TengahMuntilan sekitar 14 kilometer dari Puncak Merapi, paling merasakan hujan abu ini. [10]
8 Juni, Gunung Merapi pada pukul 09:03 WIB meletus dengan semburan awan panas yang membuat ribuan warga di wilayah lereng Gunung Merapi panik dan berusaha melarikan diri ke tempat aman. Hari ini tercatat dua letusan Merapi, letusan kedua terjadi sekitar pukul 09:40 WIB. Semburan awan panas sejauh 5 km lebih mengarah ke hulu Kali Gendol (lereng selatan) dan menghanguskan sebagian kawasan hutan di utara Kaliadem di wilayah Kabupaten Sleman[11]


Erupsi 2010

Peningkatan status dari "normal aktif" menjadi "waspada" pada tanggal 20 September 2010 direkomendasi oleh Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian (BPPTK) Yogyakarta. Setelah sekitar satu bulan, pada tanggal 21 Oktober status berubah menjadi "siaga" sejak pukul 18.00 WIB. Pada tingkat ini kegiatan pengungsian sudah harus dipersiapkan. Karena aktivitas yang semakin meningkat, ditunjukkan dengan tingginya frekuensi gempa multifase dan gempa vulkanik, sejak pukul 06.00 WIB tangggal 25 Oktober BPPTK Yogyakarta merekomendasi peningkatan status Gunung Merapi menjadi "awas" dan semua penghuni wilayah dalam radius 10 km dari puncak harus dievakuasi dan diungsikan ke wilayah aman.
Erupsi pertama terjadi sekitar pukul 17.02 WIB tanggal 26 Oktober. Sedikitnya terjadi hingga tiga kali letusan. Letusan menyemburkan material vulkanik setinggi kurang lebih 1,5 km dan disertai keluarnya awan panas yang menerjang Kaliadem, Desa Kepuharjo, Kecamatan Cangkringan, Sleman.[12] dan menelan korban 43 orang, ditambah seorang bayi dari Magelang yang tewas karena gangguan pernapasan.
Sejak saat itu mulai terjadi muntahan awan panas secara tidak teratur. Mulai 28 Oktober, Gunung Merapi memuntahkan lava pijar yang muncul hampir bersamaan dengan keluarnya awan panas pada pukul 19.54 WIB.[13] Selanjutnya mulai teramati titik api diam di puncak pada tanggal 1 November, menandai fase baru bahwa magma telah mencapai lubang kawah.
Namun demikian, berbeda dari karakter Merapi biasanya, bukannya terjadi pembentukan kubah lava baru, malah yang terjadi adalah peningkatan aktivitas semburan lava dan awan panas sejak 3 November. Erupsi eksplosif berupa letusan besar diawali pada pagi hari Kamis, 4 November 2010, menghasilkan kolom awan setinggi 4 km dan semburan awan panas ke berbagai arah di kaki Merapi. Selanjutnya, sejak sekitar pukul tiga siang hari terjadi letusan yang tidak henti-hentinya hingga malam hari dan mencapai puncaknya pada dini hari Jumat 5 November 2010. Menjelang tengah malam, radius bahaya untuk semua tempat diperbesar menjadi 20 km dari puncak. Rangkaian letusan ini serta suara gemuruh terdengar hingga Kota Yogyakarta (jarak sekitar 27 km dari puncak), Kota Magelang, dan pusat Kabupaten Wonosobo (jarak 50 km). Hujan kerikil dan pasir mencapai Kota Yogyakarta bagian utara, sedangkan hujan abu vulkanik pekat melanda hingga Purwokerto dan Cilacap. Pada siang harinya, debu vulkanik diketahui telah mencapai TasikmalayaBandung,[14] dan Bogor.[15]
Bahaya sekunder berupa aliran lahar dingin juga mengancam kawasan lebih rendah setelah pada tanggal 4 November terjadi hujan deras di sekitar puncak Merapi. Pada tanggal 5 November Kali Code di kawasan Kota Yogyakarta dinyatakan berstatus "awas" (red alert). [16][rujukan?]
Letusan kuat 5 November diikuti oleh aktivitas tinggi selama sekitar seminggu, sebelum kemudian terjadi sedikit penurunan aktivitas, namun status keamanan tetap "Awas". Pada tanggal 15 November 2010 batas radius bahaya untuk Kabupaten Magelang dikurangi menjadi 15 km dan untuk dua kabupaten Jawa Tengah lainnya menjadi 10 km. Hanya bagi Kab. Sleman yang masih tetap diberlakukan radius bahaya 20 km.[17]

Vegetasi

Gunung Merapi di bagian puncak tidak pernah ditumbuhi vegetasi karena aktivitas yang tinggi. Jenis tumbuhan di bagian teratas bertipe alpina khas pegunungan Jawa, seperti Rhododendron danedeweis jawa. Agak ke bawah terdapat hutan bambu dan tetumbuhan pegunungan tropika.
Lereng Merapi, khususnya di bawah 1.000 m, merupakan tempat asal dua kultivar salak unggul nasional, yaitu salak 'Pondoh' dan 'Nglumut'.

Rute pendakian

Gunung Merapi merupakan obyek pendakian yang populer. karena gunung ini merupakan gunung yang sangat mempesona. Jalur pendakian yang paling umum dan dekat adalah melalui sisi utara dari SèloKabupaten BoyolaliJawa Tengah, tepatnya di Desa Tlogolele. Desa ini terletak di antara Gunung Merapi dan Gunung Merbabu. Pendakian melalui Selo memakan waktu sekitar lima jam hingga ke puncak.
Jalur populer lain adalah melalui Kaliurang, Kecamatan PakemKabupaten SlemanYogyakarta di sisi selatan. Jalur ini lebih terjal dan memakan waktu sekitar 6-7 jam hingga ke puncak. Jalur alternatif yang lain adalah melalui sisi barat laut, dimulai dari SawanganKabupaten MagelangJawa Tengah dan melalui sisi tenggara, dari arah Deles, Kecamatan KemalangKabupaten Klaten,Jawa Tengah.